Maruarar Soal Piala Presiden: Rating Tinggi, Transparan, dan Tanpa Pengaturan Skor

Jakarta – Tak sekadar dapat untung, gelaran Piala Presiden juga dinilai sukses dalam hal penyelenggaraan. Turnamen itu dapat rating televisi yang tinggi, digelar dengan transparan dan tanpa pengaturan skor.

Demikian diungkapkan Ketua Komite Pengawas Piala Presiden, Maruarar Sirait, usai menemui Presiden Joko Widodo untuk memberikan laporan penyelenggaraan Piala Presiden. Maruarar datang ke Istana Negara bersama Bos Mahaka Sport, Erick Thohir, dan auditor dari Price Waterhouse Cooper.

Meski menilai Piala Presiden berjalan sukses, Maruarar tak menyangkal kalau dalam beberapa hal evaluasi harus tetap dilakukan.

“Pertama soal transparansi, kedua soal fairplay juga dievaluasi. Bagaimana harus dipertahankan tak ada pengaturan skor, wasitnya tegas tak bisa dibeli. Ketiga, itu jadi ajang prestasi. Banyak ditemukan bibit unggul dalam piala presiden kemarin. Dan keempat tentang ekonomi kerakyatan banyak ditemui pedagang kaki lima dan asongan,” papar Maruarar di depan wartawan.

“Dapat laporan darin TV ratingnya tinggi sekali itu jadi hiburan masyarakat. Itu olahraga, sportivitas. Berjalan dan prestasinya luar biasa. Juga diminta koordinasi dengan Pak Teten (Masduki, Kepala Staff Kepresidenan) untuk persiapkan Piala Presiden di tahun itu dengan beberapa hal kekurangan kita harus diperbaiki di waktu yang akan datang,” lanjut dia.

Sama seperti Erick, Maruarar belum bisa mengonfirmasi soal rencana dihelatnya lagi Piala Presiden. Dalam kesempatan bertemu dengan Jokowi, tidak juga dibahas soal pembekuan PSSI yang hingga kini masih terus berjalan.

“Kalau kemaren kita kan memulai itu bulan Agustus, nanti kita akan persiapkan secara utuh. Tentu ada beberapa hal catatan yang perlu kita perbaiki supaya lebih baik lagi, supaya lebih banyak pesertanya, bagaimana bisa lebih banyak lah itu berkoordinasi dengn semua pihak ya. Dari Menpora dari semua pihak mendukung. Dukungan semua pihak dari klub klub dari sponsor dari auditor, jadi kerjanya itu enak lah.”

“Tidak dibicarakan (soal pembekuan PSSI). Saya gak bicarakan itu. Saya rasa gini lah, kita harus mencari solusi yang terbaik lah. Ada pak Erick yang memimpin Inter Milan dan di Itali dia punya pengalaman internasional lah. Seperti ingat kan waktu final Piala Presiden (di Jakarta) banyak yang gak setuju karena urusan keamanan tapi semua pihak mendukung. Perlu juga kita melihat sebagai bangsa besar kita menyelenggarakan Piala Presiden yang aman. Kita mencoba pelan pelan membuat event event profesional,” tuntasnya.